Selasa, 15 Januari 2013

PENYESUAIAN SOSIAL (Alexander A. Schneiders)


Menurut Alexander A. Schneiders dalam bukunya yang berjudul “Personal adjustment and mental health” (1964:454) yang memberikan definisi sebagai berikut :
“Sosial adjustment signifies the capacity to react affectively and wholesomely to social realities, situation and relations do that the requirement for social living are fulfilled in an acceptable and satisfactory manner”.
                        Dari definisi diatas dapat dikatakan bahwa penyesuaian sosial merupakan kemampuan untuk bereaksi secara efektif dan sehat terhadap situasi, realitas dan relasi sosial sehingga tuntutan hidup bermasyarakat dipenuhi dengan cara yang dapat diterima dan memuaskan.
                        Seseorang yang memiliki penyesuaian diri yang baik adalah seseorang yang mampu merespon secara matang, efisien, memuaskan dan bermanfaat. Efisien maksudnya adalah apa yang dilakukannya memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang diinginkannya tanpa banyak mengeluarkan energi, tidak membuang waktu, dan melakukan sedikit kesalahan. Pengertian bermanfaat maksudnya adalah apa yang dilakukan ditujukan untuk kemanusiaan, lingkungan sosial, dan didalam berhubungan dengan Tuhan, dengan demikian terdapat kategori individu yang baik dalam penyesuaian diri, baik terhadap dirinya maupun terhadap lingkungan sosialnya.
                        Penyesuaian sosial dilingkungan sekolah dalam penelitian ini diartikan sebagai kemampuan siswa untuk berinteraksi dengan orang lain dan situasi-situasi tertentu yang ada di lingkungan sekolah secara efektif dan sehat sehingga siswa memperoleh kepuasan dalam upaya memenuhi kebutuhannya yang dapat dirasakan oleh dirinya dan orang lain atau lingkungannya.
2.2.2.   Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian sosial
   Menurut Schneider dalam bukunya “Personal Adjustment and mental health” (1961 : 122), ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi penyesuaian sosial yaitu:
1.      Kondisi fisik dan yang mempengaruhinya, mencakup hereditas, konstitusi fisik, system syaraf, kelenjar dan otot, kesehatan, penyakit dan sebagainya.
2.      Perkembangan dan kematangan, mencakup kematangan intelektual, sosial, moral dan emosional.
3.      Faktor psikologis, mencakup pengalaman, belajar, kebiasaan, self determination, frustrasi dan konflik.
4.      Kondisi lingkungan, mencakup lingkungan rumah, keluarga dan sekolah.
5.      Faktor kebudayaan dan agama.
2.2.3.   Penyesuaian Sosial yang baik dan yang tidak baik
   Penyesuaian sosial yang baik ditandai dengan tampilnya respon-respon yang matang, efisien, memuaskan, dan sehat. Respon yang efisien adalah respon yang dapat membawa hasil yang diinginkan tanpa membuang banyak energi, waktu ataupun terjadinya kesalahan. Sedangkan yang dimaksud dengan respon yang sehat adalah respon yang sesuai dengan keadaan diri individu, sesuai dengan hubungan dengan kerabat individu tersebut, dan sesuai dengan hubungan individu dengan Tuhan. Dengan kata lain, individu yang dapat melakukan penyesuaian sosial yang baik adalah individu yang dengan keterbatasan kemampuan dan kepribadiannya, mampu belajar bereaksi terhadap dirinya dan lingkungannya dengan cara yang matang, efisien, sehat dan memuaskan, dan dapat mengatasi konflik-konflik mental, frustrasi, serta kesulitan-kesulitan personal dan sosial tanpa mengembangkan tingkah laku yang simptomatik.
Penyesuaian yang baik membutuhkan pengetahuan, keterampilan, kebajikan, pengalaman, dan kualitas-kualitas lainnya yang tergantung pada situasi yang sedang berlangsung. Kebanyakan orang tidak memiliki satu atau lebih karakteristik ini. Hal tersebut disebabkan adanya keterbatasan dalam kapasitas untuk melakukan penyesuaian diri yang baik di setiap situasi. Dalam suatu situasi penting yang membutuhkan respon yang tepat, individu mungkin kurang memiliki pengalaman yang diperlukan untuk menghadapi situasi seperti itu. Kebiasaan-kebiasaan buruk, adanya perasaan inferior di dalam diri, atau tidak cukupnya pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki individu dapat pula menghalangi individu tersebut untuk dapat memenuhi setiap tuntutan yang ditujukan kepadanya.
Individu yang tidak berhasil atau gagal dalam melakukan penyesuaian diri yang tidak mampu mengatasi konflik yang dihadapinya atau tidak menemukan cara-cara yang tepat untuk mengatasi masalah atau tuntutan dari lingkungan, sehingga hal tersebut menimbulkan rasa frustrasi pada dirinya. Penyesuaian sosial yang tidak berhasil terjadi karena kondisi tertekan yang dialami individu yang mengakibatkan ia bertindak tidak rasional dan tidak efektif, serta mendorong individu melakukan usaha yang tidak realistis untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Tidak selamanya kondisi tertekan ini menimbulkan penyesuaian diri yang tidak berhasil, kadang-kadang hal tersebut dapat pula mengarahkan kekuatan yang luar biasa dan cara-cara efektif dalam penyesuaian sosial. Hal ini merupakan sumber-sumber yang berharga untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi dan hanya muncul jika sumber-sumber tersebut sangat dibutuhkan.
2.2.4.   Aspek Penyesuaian Sosial
Menurut Schneiders (1964), penyesuaian social memiliki beberapa aspek-aspek sebagai berikut:
1.                  Recognition adalah Menghormati dan menerima hak-hak orang lain
Dalam hal ini individu tidak melanggar hak-hak orang lain yang berbeda dengan dirinya, untuk menghindari terjadinya konflik sosial. Menurut Schneiders ketika kita dapat menghargai dan menghormati hak-hak  orang lain maka orang lain akan menghormati dan menghargai hak-hak kita sehingga hubungan sosial antar individu dapat terjalin dengan sehat dan harmonis.
2.                  Participation adalah Melibatkan diri dalam berelasi
Setiap individu harus dapat mengembangkan dan melihara persahabatan. Seseorang yang tidak mampu membangun relasi dengan orang lain dan lebih menutup diri dari relasi sosial akan menghasilkan penyesuain diri yang buruk. Individu ini tidak memiliki ketertarikan untuk berpartisipasi dengan aktivitas dilingkungannya serta tidak mampu untuk mengekspresikan diri mereka sendiri, sedangkan bentuk penyesuaian akan dikatakan baik apabila individu tersebut mampu menciptakan relasi yang sehat dengan orang lain, mengembangkan persahabatan, berperan aktif dalam kegiatan sosial, serta menghargai nilai-nilai yang berlaku dimasyarakat.
  1. Social approval adalah Minat dan simpati terhadap kesejahteraan orang lain
Hal ini dapat merupakan bentuk penyesuaian diri dimasyarakat, dimana individu dapat peka dengan masalah dan kesulitan orang lain disekelilingnya serta bersedia membantu meringankan masalahnya. Selain itu individu juga harus menunjukan minat terhadap tujuan, harapan dan aspirasi, cara pandang ini juga sesuai dengan tuntutan dalam penyesuaian keagamaan (religious adjustment).
  1. Altruisme  adalah Memiliki sifat rendah hati dan tidak egois. Rasa saling membantu dan mementingkan orang lain merupakan nilai-nilai moral yang aplikasi dari nilai-nilai tersebut merupakan bagian dari penyesuaian moral yang baik yang apabila diterapkan dimasyarakat secara wajar dan bermanfaat maka akan membawa pada penyesuaian diri yang kuat. Bentuk dari sifat-sifat tersebut memiliki rasa kemanusian, rendah diri, dan kejujujuran dimana individu yang memiliki sifat ini akan memiliki kestabilan mental, keadaan emosi yang sehat dan penyesuaian yang baik
  2. Conformity adalah Menghormati dan mentaati nilai-nilai integritas hukum, tradisi dan kebiasaan. Adanya kesadaran untuk mematuhi dan menghormati peraturan dan tradisi yang berlaku dilingkungan maka ia akan dapat diterima dengan baik dilingkungannya
2.2.5.   Penyesuaian Sosial Pada Remaja
Hurlock (1999menerangkan bahwa salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah yang berhubungan dengan penyesuaian sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan orang lain diluar lingkungan keluarga. Untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja harus membuat banyak penyesuaian baru. Yang terpenting dan tersulit adalah penyesuaian diri dengan pengaruh kelompok teman sebaya agar dapat diterima dilingkungan.
Schneiders (1964) mengemukakan batasan penyesuaian sosial sebagai usaha individu dengan kemapuan kapasitas yang dimilikinya untuk bereaksi secara efektif dan memadai terhadap realitas sosial adapun tujuan dari usaha tersebut adalah untuk memenuhi tuntutan sosial dengan cara yang dapat diterima dan memuaskan bagi dirinya maupun bagi lingkungannya.
Penyesuaian sosial dapat dikatakan baik apabila individu tersebut mampu menciptakan relasi yang sehat dengan orang lain, memperhatikan kesejahteraan orang lain, mengembangkan persahabatan, berperan aktif dalam kegiatan sosial serta menghargai nilai-nilai yang berlaku dimasyarakat. Sedangkan penyesuaian yang buruk dapat terlihat dari tidak mampunya seseorang memenuhi tuntutan sosial dengan cara yang tidak dapat diterima dan tidak memuaskan bagi dirinya sendiri.
SUMBER : Schneiders, Alexander. (1964).  Personal Adjustment and Mental Health. New York, Hoolt, Rinehart and Winston.

Artikel Terkait

31 komentar